Sabtu, 03 November 2012

Pemakaian Tanda Baca


Tanda baca yang lazim digunakan dewasa ini didasarkan atas intonasi, dan sebagian didasarkan atas relasi gramatikal, frasa, dan inter-relasi antar bagian kalimat.  Tanda-tanda baca yang umumnya dipakai dalam bahasa Indonesia adalah:
·         Tanda Titik (.)
a.       Tanda titik dipakai pada akhir kalimat. 
Contohnya:
Kita liburan ke Bali.
b.      Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, iktisar, atau daftar. 
Contohnya:
a.1.1  Pembangunan
a.1.2  Lingkungan
c.       Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu. 
Contohnya:
Pukul 15.30.01
d.      Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda Tanya atau tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka. 
Contohnya:
Tirtaharja, Umar dan La Sula. 1994. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
e.       Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya. 
Contohnya:
Jumlah buruh yang berdemontrasi adalah 20.300 orang.
f.       Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah. 
Contohnya:
Nomor  telpon  genggamnya adalah 081789345635

g.      Tanda titik tidak dipakai pada  akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya. 
Contohnya:
Fluktuasi pertambahan berat badan ternak sapi dapat di lihat pada Tabel 3 dalam Bab II,  dan Grafik 10 dalam Bab V  buku ini.

h.       Tanda titik tidak dipakai  di belakang alamat pengiriman dan tanggal surat atau nama alamat penerima surat. 
Contohnya:
Yth.  Sdr. Nimrot  Kase (tanpa titik)
Jalan Soeharto  72 (tanpa titik)

·         Tanda Koma (,)
a.       Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan. 
Contohnya:
Saya membutuhkan  batu, kayu, semen, dan pasir untuk membangun rumah.
b.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan suatu kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti  tetapi  atau  melainkan. 
Contohnya:
Saya akan hadir, tetapi agak terlambat karena ada rapat di kantor.
c.       Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahuli induk kalimat. 
Contohnya:
Kalau lapar, saya  Saya akan makan.
d.      Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi  induk kalimat. 
Contohnya:
Saya akan makan kalau saya lapar.

e.       Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung  antara kalimat  yang terdapat pada awal kalimat.  Termasuk di dalamnya oleh  karena itu, jadi, lagi pula, meskipun, begitu, dan tetapi
Contohnya:
Oleh karena itu, saya memutuskan untuk tidak datang.
f.       Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, dari kata lain yang terdapat dalam kalimat. 
Contohnya:
O, saya kira Anda bukan orang  rote.
g.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. 
Contohnya:
Katanya, “Saya lapar sekali’
h.      Tanda koma dipakai  di antara nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat dan tanggal, serta nama tempat dan wilayah atau negara yang ditulis berurutan. 
Contohnya:
Nama dan alamat tempat kerja saya adalah Fakultas Peternakan, Universitas Nusa Cendana, Jalan Adisucipto 10, Penfui, Kupang, NTT 85001, Indonesia.
i.        Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka. 
Contohnya:
Mullik, Marthen.  2011. Bahasa Indonesia Dalan Karya Tulis Ilmiah. Undana Press.
j.        Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki. 
Contohnya:
A.K. Malik, Kalimat Efektif  (Kupang,Undana Press, 2011), hlm 19.
k.      Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga. 
Contohnya:
M. L. Mullik, Ph.D.

l.        Tanda koma dipakai  di muka angka persepuluh atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka. 
Contohnya:
6,9 km
m.    Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi. 
Contohnya:
Teman kerja saya, pak Agus Konda Malik, sangat mahir dalam berbahasa.
n.       Tanda koma dipakai -untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat. 
Contohnya:
Dalam masalah berbahasa, kita harus menaati kaidah-kaidah baku.
o.      Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.  
Contohnya:
“Dari mana Anda memperoleh buku itu?”  tanya kakak sambil melotot.

·         Tanda Titik Koma (;)
a.       Tanda titik koma  dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Contohnya:
Rasa kantuk semakin berat; pekerjaan pun belum rampung juga.
b.      Tanda titik koma  dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan yang memisahkan yang setara di dalam kalimat majemuk.
Contohnya:
Ayah membaca Koran, Ibu sibuk bekerja; Adik menghafal nama;  saya menonton acara televisi.

·         Tanda Titik Dua (:)
a.       Tanda titik dua  dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau perintah.
Contohnya:
Para pegawai kantor ini membutuhkan peralatan kantor:  meja, kursi, dan komputer, dan printer.
b.      Tanda titik dua  tidak dipakai  jika rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Contohnya:
Para pegawai kantor ini membutuhkan  meja, kursi, komputer, dan printer.
c.       Tanda titik dua  dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan perintah.
Contohnya:
Ketua                   :  Kase Metan
d.       Tanda titik dua  dipakai di antara jilid atau nomor dan halam, di antara bab dan ayat dalam kitab suci, di antara dua judul dan anak judul suatu karangan, serta nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.
Contohnya:
Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner, 13:20-28

·         Tanda Hubung (-)
a.       Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.
Contohnya:
Tandah pada ternak sapi merupakan alat pertahan-
an tubuh yang dipakai untuk menghancurkan musuh.
b.      Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.  Angka  2 pada kata ulang tidak bisa pakai dalam teks karangan resmi.
Contohnya:
bapak-bapak  (tidak ditulis  bapak 2)
c.        Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
Contohnya:
k-e-l-u-r-a-h-a-n, 02-03-2011

d.       Tanda hubung dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan penghilangan  bagian-bagian kelompok kata.
Contohnya:
ber-evolusi
e.       Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf besar, ke- dengan angka, angka dengan –an, singkatan berhuruf besar dengan imbuhan atau kata, dan nama jabatan rangkap.
Contohnya:
se-Bali, Sinar-
f.       Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Contohnya:
di-upgrade

·         Tanda Pisah (-)
a.       Tanda pisah membatasi penyisipan kata yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.
Contohnya:
Dengan bekerja bersama  -berdasarkan pengalaman saya selama bertahun-tahun-  semua target organisasi dapat dicapai.
b.      Tanda pisah menegaskan adanya keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
Contohnya:
Temuan Esintain  -gaya gravitasi-  telah meletakan landasan yang kuat dalam pengembangan bidang penerbangan.
c.       Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat dengan arti ‘sampai’ atau ‘sampai dengan’.
Contohnya:
Tanggal 25-04-1965

·         Tanda Elipsis ()
a.       Tanda elpisis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.
Contohnya:
Kalau begitu …, ya, tidak  perlu dirisaukan lagi.
b.      Tanda elpisis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.
Contohnya:
Dan, perjuangan pergerakan kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu … bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
Catatan: Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat titik, tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu buah untuk menandai akhir kalimat.

·         Tanda Tanya (?)
a.       Tanda tanya  dipakai pada akhir kalimat tanya, dan  untuk menandai bagian kalimat atau pernyataan yang disangsikan kebenarannya.
Contohnya:
Apakah Anda dalam keadaan sehat?

·         Tanda Seru (!)
a.       Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.
Contohnya:
Alangkah malangnya nasib pemuda itu!

·         Tanda Kurung ((…))
a.       Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Contohnya:
Dokumen usulan ini dilengkapi dengan lampiran-lampiran (daftar nama anggota, ijasah, surat keterangan berkelakuan baik, dan hasil wawancara) seperti yang disyaratkan.
b.      Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.
Contohnya:
Setiap tahun, ratusan peselancar dari berbagai negara mengadu keahlian dalam Kompetisi Selancar  Rote Ndao di Nemberala (pantai yang memiliki gulungan ombak terbaik nomor 2  di dunia)

c.       Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.
Contohnya:
Bajak laut itu berasal dari (pulau) Alor
d.      Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang merinci satu urutan keterangan.
Contohnya:
Produktivitas menyangkut aspek (a) masukan, (b) proses, dan (c) luaran

·         Tanda Kurung  Siku ([…])
a.       Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.
Contohnya:
Melindungi satwa li[a]r tidaklah mudah.
b.      Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung (…).
Contohnya:
Rumput kume adalah rumput unggul lokal (asli NTT [bernama latin Sorghum plumosum] khususnya terdapat di Timor, Rote, Sabu, Sumba) yang memiliki nilai gizi tinggi.

·         Tanda petik  (“…”)
a.       Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lainnya.
Contohnya:
“Saya mandi dulu, ya”  kata Andri, “Silahkan  duduk dulu”
b.      Tanda petik  mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Contohnya:
Puisi “Aku” digubah oleh W.S.Rendra

c.       Tanda petik  mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
Contohnya:
Cara menyusun ransum ayam dapat dilakukan dengan metode “coba-coba”.

·         Tanda petik  tunggal (‘…’)
a.       Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
Contohnya:
Kata ayah, “tidakkah kamu dengar bunyi ‘tok…tok… tok’ di pintu?”
b.      Tanda petik tunggal mengapit makna terjemahan, atau penjelasan kata ungkapan asing.
Contohnya:
Sustainable  ‘berkelanjutan’


·         Tanda garis miring  ( / )
a.       Tanda garis miring dipakai dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun  yang terbagi dalam  dua tahun tawim.
Contohnya:
No. 124/Fpt/III/2011
b.      Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, atau tiap.
Contohnya:
Bapak/Ibu/Saudara

·         Tanda Penyingkat atau Apostrof  (‘)
a.       Tanda  penyingklat atau apsotrof  menunjuk penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.
Contohnya:
3        Maret  ’11 (’11 = 2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar